"Apakah Anda yakin ingin memesan semua makanan ini?" tanya pelayan yang melayani mereka dengan sopan. "Total harganya cukup mahal."

Sebagai pelayan di rumah makan besar, ia telah diajarkan untuk selalu bersikap hormat dan tidak memandang rendah terhadap pelanggan. Namun, jarang sekali ada orang berpenampilan sederhana yang memesan dalam jumlah sebanyak ini dilantai pertama.

Lynx mengangguk tanpa ragu. "Jangan khawatir, kami bisa membayarnya."

Mendengar jawaban itu, pelayan tersebut tidak bertanya lebih lanjut. Ia segera mencatat semuanya lalu menuju dapur, menyerahkan pesanan kepada petugas penerima.

Di sudut dapur, seorang pelayan wanita yang sedang mengantarkan hidangan melirik rekannya yang tampak ragu-ragu.

"Ada apa? Kenapa wajahmu terlihat bingung begitu?" tanyanya.

Pria itu menyodorkan kertas pesanan. Pelayan wanita itu melihatnya sekilas dan mengerutkan kening. "Apa masalahnya?"

"Kita ada di lantai pertama. Jarang sekali ada pelanggan di lantai ini yang memesan sebanyak ini," bisiknya. "Biasanya, mereka yang memesan dalam jumlah besar lebih memilih lantai dua atau tiga. Lihat sendiri." Ia melirik ke arah meja dengan nomor yang tertera di kertas dan melihat seorang pemuda dan wanita cantik berpakaian sangat sederhana meski terlihat baru.

Pelayan wanita itu memandangi lalu menyipitkan matanya, dan tersenyum sinis. "Beri aku kertas itu. Aku yakin mereka hanya ingin mencari masalah."

Saat itu juga, suara langkah berat menggema di ambang pintu. Seorang pemuda bertubuh gempal dengan pakaian mewah memasuki rumah makan, diiringi beberapa pengawal. Kepalanya terangkat tinggi, dagunya terjulur ke depan, seolah setiap orang di ruangan ini wajib menghormatinya.

Ia adalah Huo Tao, putra salah satu keluarga terkaya di kota ini. Namanya dikenal luas, bukan karena kebijaksanaan atau prestasi, melainkan karena kesombongannya dan kebiasaannya menggoda wanita. Paviliun Seribu Rasa adalah salah satu tempat favoritnya, bukan karena makanannya yang lezat, melainkan karena letaknya yang jauh dari pusat kota. Di tempat ini, ia bisa berbuat sesuka hati tanpa ada banyak mata yang mengawasi.

Begitu melihat pria itu, mata Sun Fang berbinar. Sebuah ide licik melintas di benaknya,"kesempatan emas untuk mendapatkan keuntungan." Ia sudah sering mengenalkan wanita cantik kepada Huo Tao dan mendapatkan hadiah sebagai imbalan.

"Tuan Muda Huo," sapanya dengan suara yang dibuat lebih lembut dan menggoda. "Ada sepasang pemuda dan wanita yang sepertinya mencari masalah di rumah makan ini."

Ia mengangkat kertas pesanan, memperlihatkan daftar makanan yang begitu panjang. "Lihatlah ini, mereka memesan begitu banyak, padahal dilihat dari pakaian mereka yang murahan, seperti orang yang baru datang dari desa. Saya curiga mereka hanya ingin membuat kekacauan."

Kemudian, ia mendekat lebih dekat, nyaris membisik di telinga Huo Tao. "Tapi, wanita yang bersamanya... sangat cocok dengan selera Tuan Muda. Saya yakin Anda akan menyukainya."

Mata Huo Tao berbinar penuh gairah, bibirnya melengkung dalam seringai serakah.

"Wanita itu... sangat cantik. Aku belum pernah bersama wanita sepertinya. Jarang ada wanita secantik itu di kota ini," katanya, suaranya penuh ketertarikan. "Apa kau tahu siapa dia?"

Sun Fang menggeleng. "Saya tidak tahu, Tuan Muda. Tapi lihat saja pakaian mereka—jelas mereka bukan dari kalangan atas. Saya belum pernah melihat mereka sebelumnya. Bukankah lebih pantas jika wanita itu berada di sisi Tuan Muda daripada bersama pria lusuh di sampingnya?" bisiknya, semakin menghasut.

Mendengar kata-kata pujian itu, Huo Tao tambah bernafsu memiliki. Dia diam sejenak, mulai memikirkan rencana untuk mendapatkan wanita itu.

Tidak lama, Seringaian Huo Tao semakin lebar. Ia mencondongkan tubuh, membisikkan sesuatu ke telinga Sun Fang. Rencana yang ia susun cepat dan licik.

Sun Fang mengangguk, senyum licik tersungging di wajahnya. "Tuan Muda Huo memang paling pintar," pujinya dengan nada penuh sanjungan.

Sun Fang melangkah dengan penuh percaya diri ke arah meja Lynx dan Jelita. Senyumnya terlihat manis, tapi nada suaranya tajam saat ia berbicara, cukup keras untuk menarik perhatian pelanggan lain.

"Aduh, maaf mengganggu. Tapi saya hanya ingin memastikan satu hal," katanya, menatap mereka dengan senyum mengejek. "Kalian sudah memesan begitu banyak makanan, bukan? Saya ingin tahu, apa kalian benar-benar bisa membayarnya?"

Beberapa pelanggan mulai melirik ke arah mereka. Sun Fang tersenyum puas melihat perhatian yang mulai tertuju ke meja ini.

"Jangan salah paham," lanjutnya, suaranya terdengar lebih ramah seolah ia benar-benar peduli. "Saya hanya tidak ingin pelanggan lain terganggu kalau tiba-tiba ada yang tidak bisa membayar. Kami tidak ingin ada orang yang sengaja mencari masalah, bukan?"

Jelita menegang. Ia bisa merasakan tatapan penuh curiga dari orang-orang di sekitar mereka. Wajahnya memerah karena malu, tetapi ia tetap menundukkan kepala, berusaha menahan amarah.

Lynx, di sisi lain, hanya tersenyum tipis. Ia sudah mendengar percakapan Sun Fang dan Huo Tao sejak tadi. Ketika ia merasakan ada seseorang yang terus memperhatikannya sejak awal, ia sengaja menggunakan kekuatannya untuk mendengar lebih jelas. Dan seperti dugaannya, ini hanyalah permainan murahan untuk mempermalukan mereka.

Jelita yang merasa banyak orang memperhatikan, ingin menjelaskan kepada pelayan wanita tersebut. Namun, sebelum ia sempat berkata apa pun, suara lain tiba-tiba terdengar.

"Ada keributan apa di sini?"

Suara itu berasal dari seorang pria berbadan besar yang baru saja berjalan mendekat. Dengan langkah angkuh, Huo Tao muncul bersama para pengawalnya. Wajahnya dibuat seolah-olah ia benar-benar peduli dengan situasi ini.

Sun Fang langsung tersenyum, seperti melihat penyelamat datang. "Tuan Muda Huo! Saya tadi hanya khawatir karena dua pelanggan ini memesan terlalu banyak makanan, tapi... saya ragu mereka mampu membayarnya."

Huo Tao melirik sekilas ke arah Lynx, lalu tatapannya beralih ke Jelita. Matanya berbinar saat melihat wajah cantiknya lebih dekat.

"Ah... ternyata seorang bidadari," gumamnya, dengan nada seolah terpesona. "Bagaimana bisa seseorang secantik ini duduk di meja seperti ini?"

Lynx tetap bersandar di kursinya, matanya terpejam santai dengan tangan di depan dada, seolah sama sekali tidak terganggu oleh sandiwara murahan ini.

Sun Fang tertawa kecil dan menatap Huo Tao dengan kagum yang dibuat-buat. "Tuan Muda Huo memang luar biasa! Benar-benar pria dengan mata yang tajam dan selera yang tinggi. Wanita secantik ini memang lebih cocok berada di sisi Anda, bukan bersama pria lusuh di sampingnya."

Jelita mengepalkan tangan di bawah meja. Dia paling mudah marah jika ada yang merendahkan kepala sukunya. Amarahnya sudah hampir meledak.

Huo Tao memasang ekspresi murah hati. "Kalau memang ada masalah pembayaran, bagaimana kalau aku saja yang membayarnya?" katanya, suaranya terdengar sangat dermawan. "Bagaimanapun juga, aku tidak tega melihat seorang wanita cantik seperti ini dibuat malu di depan umum."

Jelita tidak bisa menahan diri lagi. Ia mendongak, hendak melawan dengan kata-kata tajam. Namun, sebelum ia sempat berbicara lebih jauh, sesuatu di sudut matanya menarik perhatiannya.

Seorang wanita yang baru saja turun dari lantai dua, sedang berjalan menuju pintu keluar rumah makan.

Mata Jelita membelalak. "Leena!" serunya spontan.

Lynx langsung membuka matanya. Ia menatap Jelita dengan tajam. "Apa? Leena?"

Jelita menoleh padanya, wajahnya penuh keterkejutan. "Xiao Ling, aku melihat seseorang seperti Leena! Dia baru saja keluar!"

Tanpa pikir panjang, Lynx melompat dari tempat duduknya dan bergegas menuju pintu.

Namun, sebelum ia berhasil melewati jalan, tubuh besar Huo Tao tiba-tiba menghalangi jalannya. "Eh, jangan terburu-buru pergi, Tuan Kecil. Kita masih belum menyelesaikan urusan kita di si..."

Brak!

Lynx mendorong Huo Tao ke samping dengan satu gerakan cepat dan kuat. Tubuh gemuk pria itu terhuyung ke belakang, kehilangan keseimbangan.

"Aaahhh!"

Dengan ekspresi kaget, Huo Tao terjatuh dengan keras ke meja makanan di sampingnya. Mangkuk sup tumpah ke pakaiannya, sementara piring-piring beterbangan ke lantai, menimbulkan suara gaduh yang menarik perhatian seluruh rumah makan.

Para pelanggan menahan napas melihat kejadian itu. Beberapa bahkan tertawa kecil saat melihat ekspresi konyol Huo Tao yang kini terkapar di lantai, wajahnya merah padam karena marah dan malu.

